Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

May 25, 2014

An Inspiration

I must say after I watched an episode of Cosmos: A Spacetime Odyssey from two weeks ago (E9: The Lost Worlds of Planet Earth) and yesterday's episode (E11: The Immortals), I feel a little hopeless. We hold responsibility for our planet, for generations to come. We should care. And sometimes it seems too much for some people to care. I just don't understand. I can't put my thoughts into the right words, but like I said, it made me feel a little hopeless.

I was still stunned by 'The Immortals' episode when I started browsing the internet and I found this video someone shared on Tumblr. And I don't want to sound exaggerating but after I watched this I feel that this is our hope! If the the future looks like this maybe we and the next human generations have chance to sustain this planet, the intelligence, and then they all can figure out how to travel through space and find another home among stars before earth and our sun is no more. Do I even make sense right now? Do you know what I mean? Sorry, it's like waaay past two in the morning. The thing is... JUST WATCH THIS VIDEO. Donate! Or at least share!




PS: Are you bored of how much I mentioned Cosmos yet? Well, good for you (but not for me!), there's only two episodes left.

August 18, 2013

68 Tahun

Image from here.




17 Agustus 1945.
Sudah enam puluh delapan tahun berlalu.

Saya ingat ketika masih kecil ikut lomba 17-an di lingkungan RT (siapa sih yang enggak ikutan?). Saya ingat pertama kali ikut lomba lari kelereng, langsung, dan langsung semangat untuk ikut lomba lainnya. Tentunya saya nggak menang di lomba selanjutnya (lomba lari). Pernah juga dengan sotoynya ikut lomba nangkap belut waktu SMA. Saya pikir nggak ada yang perlu ditakutin dari seekor belut. Teman-teman sampai heran saya mau ikutan lomba itu. Dan benar saja setelah saya pegang... yaksss tekstur tubuhnya yang super lembek dan nggak berhenti meliuk-liuk membuat saya terbayang saudaranya yang sesama mollusca. Tapi saya memang termasuk keras kepala. Saya nggak akan percaya lomba nangkap belut itu susah sebelum saya buktikan sendiri. Hehe.

Saya nggak mau terdengar sok ngerti atau apa, tapi bangsa ini memang masih perlu banyak belajar dan berbenah diri. Kemarin sore saya terhibur dengan acara TV. Mulai dari dokumenter sejarah berhubung momen kemerdekaan (saya nonton tentang Westerling) dan sebuah acara mengenai orang-orang yang hidup di perbatasan. Sungguh memprihatinkan kehidupan mereka. Pasar aja nggak ada. Mereka harus berjalan kaki berjam-jam untuk bisa berjualan sayur di negeri tetangga. Sekolah-sekolahnya kekurangan murid. Listrik pun nggak ada. Tapi ada beberapa anak muda yang peduli dan mengajari mereka membuat blog dan mengisi blog dengan tulisan-tulisan sederhana mereka, dengan opini-opini mereka supaya bisa didengar oleh dunia. Membuat blog baru dan postingan pertama paling lama mungkin butuh waktu sekitar 5 menit bagi kita. Buat mereka, butuh waktu lebih lama dari itu karena kendalanya apalagi kalau bukan sinyal. Gila ya. Mudah-mudahan nggak lama lagi kita bisa bangkit dan semua rakyat Indonesia bisa sejahtera. Saya suka heran. Orang yang sengaja korupsi itu, mereka pernah nggak sih nonton acara serupa? Punya TV nggak sih di rumahnya? Tahu nggak sih kalau pembangunan masih belum merata? Karena kalau iya, rasanya nggak akan tega merampok uang negara yang seharusnya bisa bermanfaat bagi rakyat.

Saya cinta Indonesia. 
Sekian.

March 24, 2013

Baca + Pikiran

2013-03-08-06.48.07Been listening to: Mumford and Sons - Babel 

Bulan Januari lalu buku terakhir dari seri Wicked Lovely karangan Melissa Marr, yang berjudul Darkest Mercy akhirnya rilis juga versi Bahasa Indonesia-nya. Novel aslinya sudah terbit sejak Februari 2011, saya tidak tahu mengapa butuh waktu lama sekali sampai akhirnya terbit di Indonesia. Karena jedanya yang lama itu pula, saya agak lupa dengan cerita di buku sebelumnya, tapi terlalu malas untuk membaca ulang. Di novel kelima yang menutup seri ini, semuanya berakhir bahagia dan anehnya saya tidak yakin apakah saya akan lebih menyukainya seandainya beberapa karakter harus 'berkorban' lebih banyak lagi.

IMG_7048
Setelah selesai, saya butuh bacaan lain. Lily tadinya akan meminjamkan novel Nicholas Sparks. Saya pikir lumayan juga sebagai bahan bacaan di bus selama perjalanan menuju dan pulang kantor. Tapi ternyata novel itu sedang dipinjam temannya dan dia meminjamkan saya cerita Goosebumps ini. Sampulnya lebih seram dari ceritanya. Selesai dengan cerita pendek itu, saya berburu buku Warm Bodies. Saya belum menonton filmnya dan memang berniat untuk membaca bukunya dulu. Tidak berhasil mendapatkan buku dengan sampul aslinya karena memang sampul edisi film tersedia lebih banyak. Dan saya menyukainya. Saya menyukai karakter R, si zombie yang tidak biasa ini, dan juga Julie yang merupakan gadis tangguh dan cerdas. Selesai membaca, saya jadi berpikir tentang kiamat. Lebih spesifik lagi, saya berpikir, bagaimana jika seandainya peradaban manusia musnah karena zombie apocalypse, namun tidak semua orang terbunuh dan ternyata bumi masih berputar dan manusia yang tersisa harus melanjutkan hidup? Satu hal yang pasti, saya berharap saya tidak hidup selama itu sampai saya harus melihat akhir dunia.


Anyway...
Ikut berkumpul bersama sebagian besar keluarga kemarin. Sementara para orang tua sibuk dengan urusan mereka, saya menonton film di kamar sepupu saya. Kami menonton Wreck-It Ralph, The Lorax, dan Life of Pi. Film yang terakhir di sebut adalah yang belum pernah saya tonton sebelumnya... hehe
MHM_1130323183042 MHM_1130323132947
Watched Wreck-It Ralph, then played Fix-It Felix.

2013-03-23-15.15.28
Satu masalah yang saya hadapi akhirnya terpecahkan dan rasanya seperti beban berat yang saya pikul telah diangkat dan saya bebas. Bagaimana tidak, masalah ini benar-benar membuat frustasi sampai saya malas makan dan bahkan siklus bulanan ikut terganggu karena ikut terpicu stres. Tapi selain itu, ada banyak pikiran yang menggelayuti benak saya beberapa hari ini. Banyak pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian menimbulkan pertanyaan lanjutan lainnya, yang masih menunggu untuk dipikirkan kembali. Sementara berpikir, saya akan menanti long weekend di akhir bulan Maret ini dengan sabar.

March 4, 2012

Dear You.

You don't know how it feels like to be in the crowd, looking at every direction, hoping to see a face. A face only; yours. 
You don't even know why you want to see that face and looking for it here. You just want to see it even for just a second. You're not sure either of what you're going to do if you really find that face you wanted to see so bad.


And then you wonder if you've gone crazy as if you're not at least half-crazy already. And when you realize it's not gonna happen, that you're not gonna find that face here, you feel it again; that same cold feeling that make the butterflies in your stomach frozen. Do you even know how complicated it feels to feel like wanting to hug and slap the very same person? Like, you want to slap that person then say sorry and give that person a hug? Why? I don't know... for making me feel all these complicated things? For making me feel miserable sometimes?


Well, that's how I feel about you right now. Please slap yourself.




Sincerely,
-di


PS: You can come to me later for a hug.

February 3, 2012

The Sun Must Set to Rise.

IMG_5634  

Dulu setiap kali gue nonton film kemudian ada seorang karakter yang akan pergi tapi sebelum pergi dia bilang, "Sebenarnya gue nggak mau pergi. Kalau bisa, gue akan tinggal disini selama mungkin, tapi gue nggak bisa"—yah, atau semacamnya. Terus yang ditinggal bakal nangis dan kadang gue juga ikut nangis. Terus gue akan merasa marah. Gue pikir "Alasan! Bilang aja lo emang mau pergi, ninggalin dia!" Pokoknya menurut gue alasan semacam itu basi banget dan dibuat-buat. Tapi belum lama ini gue sadar, kalau alasan seperti itu nggak selamanya bohong.


Kadang seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita harus pergi. Kalau mereka pergi ke alam lain, kita nggak bisa melakukan apapun lagi untuk menahan mereka disini. Kita hanya bisa pasrah, berserah diri, dan mencoba untuk ikhlas betapapun beratnya. Gue tau persis gimana rasanya ditinggal seperti itu, rasanya seperti ada bagian dari diri gue yang ikut hilang dan nggak akan pernah kembali lagi. Rasanya seperti ada lubang besar di hati gue dan lubang itu akan selamanya kosong, hampa, dan terabaikan karena gue hanya kembali kesana sesekali untuk meratap selama beberapa saat. Kadang gue ingin lari dan pergi untuk melupakan kesedihan, tapi mau pergi kemana? Kita nggak boleh selamanya sedih, lagipula gue masih muda. Life goes on. 


Terkadang juga orang-orang itu pergi ke tempat lain untuk cari suasana baru, untuk cari pekerjaan baru, intinya untuk kehidupan yang lebih baik buat mereka. Teman dan sahabat mereka datang dan pergi silih berganti, karena memang tidak ada hal yang dapat bertahan selamanya. Tentunya kita akan merasa super sedih, tapi kita bisa apa? Memangnya kita yang kasih mereka makan dan kebutuhan hidup selama mereka disini? Memangnya kita bisa menjamin keselamatan dan hidup mereka selama mereka disini? Untuk kasus ini jawabannya tidak. Kita nggak berhak melarang orang itu untuk pergi. Lagipula kenapa kita harus melarang mereka pergi sementara itu demi kebaikan mereka?


Gue selalu benci perpisahan. Terutama karena gue sentimentil. Gue tahu bahwa gue harus melanjutkan hidup dan gue tahu bagaimana caranya. Tapi terkadang sekecil apapun kenangan yang tak sengaja mampir akan membuat gue sedih. Seharian kemarin gue nggak mood untuk melakukan apapun. Gue nggak inget makan dan akhirnya baru mencari makanan setelah perut gue konser keroncong nggak keruan. Seharian itu gue tahu bahwa gue terlihat menyedihkan. Untungnya gue nggak harus kemana-mana, karena kadang orang-orang suka terlalu ingin tahu. Kalau gue punya urusan di luar mungkin gue akan bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan yang enggan gue jawab. Kok pucat? Lagi sakit? Kenapa lemas banget begitu sih? Habis nangis? Kenapa? Kenapa? Kenapa?




Setiap kali gue dengar lagu Paradise-nya Coldplay, secara spontan gue selalu ingat lo, sobat. Entah kenapa. Mungkin karena gue tahu apa yang lo alami dan lalui. Lo harus percaya kalau nggak selamanya badai akan terus berputar di tempat yang sama dan pada akhirnya akan berlalu. Gue harap lo akan mendapatkan apa yang selama ini lo impikan. Gue hanya berharap yang terbaik buat lo. Jangan pernah merasa kalau lo sendiri. Lo punya gue. Selalu.
Don't forget all the memories we had so much. Don't forget us. Don't forget me.



Seharian ini hujan turun tanpa henti. Jeda sebentar lalu hujan lagi. Dan gue ikut merasa melankolis. Gue tahu, nun jauh disana matahari sudah siap untuk menyinari tempat ini lagi. Tapi, untuk saat ini biarkan gue bersedih sejenak.
Read the Printed Word!