Showing posts with label movie review. Show all posts
Showing posts with label movie review. Show all posts

January 17, 2019

Review Asal: ‘How to Train Your Dragon 3: The Hidden World’

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijLrDlyzJHqWL-8Vm0nJQ_DOco7cvTfvm73MXAUdXJy7FT5z_dseh8ltjbw2pK3rF_RDo7VWqgd_rTdNYPvIwsyxOC4ys6Lj26x9cmn9xcszXlbMy5vTSNJh8ttgXJd9DwBaF5ak1jG9I/s640/23495_26_dachenzaehmen_3_detail_de.jpg


Akhirnya sekuel yang ditunggu-tunggu ini rilis juga yah. Walaupun nungguin sejak lama, saya makin was-was semakin mendekati tanggal rilisnya. Apalagi setelah liat trailer resminya. Tapiii... saya senang mereka memutuskan untuk menuntaskan kisah Hiccup dan Toothless dalam trilogi, bukannya terus cari untung dengan terus bikin semakin banyak film dan mengorbankan cerita serta karakternya.


Udah tayang sejak 9 Januari, saya dan Lily nonton di weekend, tanggal 12. Asli, ini baru aja mau ngajak dia nonton karena kita emang suka filmnya, eh keduluan.
Mure banget, langsung deal, kagak pake nawar. 😂


Walaupun lupa bawa tisu dan telat dikit (seperti biasa), kami menikmati film di studio yang hampir penuh. Banyak juga yang bawa anaknya, tapi senggaknya nggak ada yang nangis kenceng atau merengek waktu film diputar.



🚨 I’LL TRY NOT TO SPOIL EVERYTHING, BUT STILL... SPOILER ALERT 🚨



How to Train Your Dragon 3: The Hidden World memperkenalkan kita ke musuh baru Hiccup dan rakyatnya, Grimmel. Karakter antagonis yang menarik ini percaya dia sudah memusnahkan semua Night Furry. Grimmel memanfaatkan otak cemerlangnya untuk menjadikan naga sebagai tunggangan dan senjata. Gile sih, naga-naga miliknya beneran mengerikan! Grimmel pikir udah berhasil memusnahkan semua Night Furry, sampai akhirnya dia mendengar bahwa kepala suku muda dari Berk punya seekor Night Furry.


Yep, this one.

Mereka pun memanfaatkan seekor naga betina yang akhirnya disebut Light Furry. Toothless langsung jatuh cinta begitu melihat si betina. Emang cantik banget sih. Kulitnya kayak ada glitter-nya dan dia punya kemampuan kamuflase. Layaknya manusia yang lagi jatuh cinta, Toothless cuma kepikiran sama cewek itu. Dan dia jadi sebel sama keadaannya, di mana sirip ekornya nggak sempurna, sehingga dia nggak bisa terbang tanpa Hiccup.


Dari sini saya udah terenyuh, pemirsa. Hiccup tentunya nggak tega lihat Toothless yang uring-uringan dan langsung bikin sirip baru untuk Toothless. Tadinya Toothless nggak mau terbang tanpa Hiccup, tapi yah namanya juga lagi dimabuk asmara, begitu siripnya dipasang, dia pamitan sebentar sama Hiccup, dan langsung pergi. Oh iya, mereka juga udah pindah dari Berk karena ancaman dari Grimmel. Warga Berk rencananya akan mencari ‘Hidden World’, seperti yang dikisahkan Stoick, ayah Hiccup, dan tinggal aman di sana bersama naga mereka. Sayangnya, pergerakan mereka udah diperkirakan oleh Grimmel dan sebentar lagi, pasukannya pasti tiba di tempat baru mereka ini. Hiccup, yang entah emang naif atau denial, mikir kalau “Ah, bentar lagi juga Toothless pulang.” Dia pun disadarkan oleh Astrid kalau yang dia lakukan sebelumnya, memberikan sirip baru untuk Toothless sama aja seperti memberi Toothless kebebasan.

Berusaha menghibur Hiccup, Astrid mengajaknya terbang dan mereka menemukan Hidden World, nun jauh di ujung utara dunia. It was magical. Baru masuk, kita disuguhkan visual yang menakjubkan dari berbagai makhluk dengan pendar bioluminescence yang bikin mereka tampak warna-warni cerah. Makin jauh ke dalam, Hiccup dan Astrid pun melihat sendiri Toothless diakui sebagai Alpha oleh semuaaa naga yang ada di Hidden World. Dengan Light Furry di sampingnya, mereka cocok banget jadi raja dan ratu. :’)

Oke, di sini makin hancur perasaan saya. Toothless benar-benar pantas mendapatkan kebahagiannya sendiri. Tapi bagaimana dengan Hiccup dan warga Berk yang sedang membutuhkan bantuannya juga? Well, well... Harus nonton sendiri deh keseruannya. Posisi Toothless sebagai Alpha memberikan keuntungan dan kerugian tersendiri. Berkat pacarnya, Toothless juga belajar trik baru! Cieee... Yang pasti, dengan atau tanpa naga mereka, warga Berk harus bersatu dan bertahan dari segala ancaman yang ada.

Berhubung di US film ini baru tayang bulan Februari nanti, belum banyak review yang bisa saya jadikan referensi dan saya masih belum paham sekuat apa Night Furry (dan Light Furry). Bener-bener lebih kuat dari naga yang lebih besar sekalipun kah? Soalnya begitu dibius, mereka bisa pulih dalam waktu singkat. Pertanyaan soal naganya Grimmel udah terjawab dari Wikia. Jadi, saya pikir naganya itu udah dimodifikasi sama Grimmel. Ternyata, emang bentuk aslinya begitu sih. Naga ini jenisnya Deathgripper dan emang punya gading yang bisa ditarik mundur lagi ke rahang mereka. Mereka juga punya ekor mirip kalajengking dan bisa memuntahkan acid blast ke target. Tapi mereka nggak kebal dengan venom mereka sendiri dan ini dimanfaatkan Grimmel untuk bikin para Deathgripper patuh sama dia.

Btw, nyadar nggak kalau Hiccup dan teman-temannya udah kayak Power Rangers waktu mereka nyerang tempatnya Grimmel? Hahaha.
from DreamWorks Animations Twitter

Dan berhubung masih termasuk film anak-anak, saya ngerasa perjalanan mereka menemukan Hidden World terlalu mudah. Begitu pun kekalahannya Grimmel. Tapi adegan berantemnya tetep seru dan menghibur. Dan ending-nya, pemirsa... ENDING-NYAAA.

Saya berusaha keras nahan air mata yang udah meleleh di penghujung film. Saya tahu, Hiccup dan Toothless, nggak akan berpisah di situ aja. Seperti Stoick berkisah pada Hiccup dulu, Hiccup juga mengakhiri film dengan berkisah tentang naga. Saya lupa kata-kata Hiccup persisnya, tapi intinya, “The world doesn’t deserve dragons... yet.”

Me, when Hiccup said that:


Dan menurut kisah Hiccup, para naga menunggu di Hidden World sampai dunia siap dengan keberadaan mereka, bukannya malah memburu dan memperebutkan mereka. Beberapa tahun kemudian, Hiccup dan Astrid yang sudah menikah dan punya dua anak berlayar ke ujung dunia. Dan bisa ditebak, mereka bertemu lagi Toothless, Light Furry, dan tiga anak mereka (yang item mirip paus Orca gak sih, dengan sedikit warna putih gitu??). Walaupun sudah berpisah jalan, sepertinya Hiccup tetap melakukan maintenance untuk sirip ekornya Toothless. Sementara Toothles, sang Alpha, menjaga Hidden World agar tetap tersembunyi dari ancaman luar, kayak Wakanda.


Captain America?
Hiccup membuktikan bahwa sayang nggak harus saling memiliki. Hiccup bisa berbesar hati untuk melepas Toothless dan rela berpisah dengan naga kesayangannya itu demi keselamatan dan kebahagian Toothless. It’s the perfect ending for the trilogy. Bagi saya, akhir kisah yang bittersweet ini malah membuat triloginya makin berkesan. Dan sejauh ini, How to Train Your Dragon adalah film animasi DreamWorks favorit saya. Kalau kangen, kayaknya saya bisa nonton banyak companion series-nya yang belum sempat saya lirik sebelumnya. Goodbye for now, Toothles, Hiccup, and Berk.





It’s you and me bud. Always.



Foto dari: Junior.de, HowtoTrainYourDragon.com, Pinterest.

December 14, 2018

Review Asal: The Girl in the Spider’s Web


Hey, hey... Sebelum ngomongin filmnya, mau update dikit aaah. Beberapa waktu lalu saya sempat mindahin blog ke Wordpress karena ngerasa udah bosen banget sama Blogspot. Tapi begitu dipindahin, coding-nya berantakan. Yakali dibenerin satu per satu. Sempet mau bikin blog baru aja, tapi kok sayang ya tulisan di sini udah lumayan banyak. Akhirnya balik lagi ke sini deh deh. Sementara cukuplah ganti URL dan font aja. Oh! Sekalian ganti nama fitur (halah) review ini karena mirip sama review Kak Teppy yang sudah terkenal seantero nusantara itu. Saya yang telat baca blognya dia sih, baru baca waktu review Eiffel... I'm In Love 2.

Sebenernya kelamaan bikin review nih film, sampai keburu turun layar deh. Eh tapi nggak apa-apa sih, soalnya saya juga nggak rekomendasi untuk nonton. Terutama kalau kamu suka banget trilogi sebelumnya. Ehe. Langsung aja deh kita bahas. Embel-embel “Padahal kalau di bukunya…” akan saya tempatkan di bagian akhir. Ini udah berusaha supaya postingannya nggak sepanjang ini tapi nggak bisa. Saya juga bikin review Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald di MeraMuda.com. Cekidot, gengs. Sekalian nonton videonya yah. Ehehehe. #shameless

🚨 SPOILERS 🚨

Seputar Filmnya yang di-reboot
Saya pertama baca The Girl with the Dragon Tattoo itu waktu kuliah, minjem buku punya teman. Terus lanjut deh baca sekuelnya, hasil berburu kalau ada bazar buku di Istora dulu. Hahaha. Di negara asalnya, Swedia, trilogi aslinya yang sering disebut Millennium Trilogy sudah diadaptasi dan cukup sukses secara komersil, maupun secara kualitas. Hollywood pun nggak mau ketinggalan. Menurut saya David Fincher sukses mengadaptasi The Girl with the Dragon Tattoo. Sayangnya, walaupun bagus banget secara kualitas dan berhasil meraih pendapatan sekitar $230 juta, filmnya dianggap kurang sukses. Sempat berhembus beberapa rumor kalau sekuelnya akan digarap. Rooney Mara juga udah bilang siap kembali memerankan karakter ini. Tapiii… lama-lama nggak jelas dan jadwalnya David Fincher udah keisi slot film lain (waktu itu dia bersiap nyutradarain Gone Girl), dan sekuel ini makin luntang-lantung.

Tiba-tiba suatu hari saya baca headline bahwa sekuelnya akan berlanjut, tapi dengan pemeran baru. Yah… Terus denger kabar lagi kalau yang diadaptasi adalah Spider’s Web dan Alicia Vikander sempat digadang menjadi Lisbeth. Moon maap nih, tapi menurut saya Mbak Alicia kagak ada pantes-pantesnya dah jadi Lisbeth. Untung nggak jadi. Anywhooo~ Akhirnya Claire Foy resmi diumumkan sebagai pemeran Lisbeth dan filmnya pun syuting. Sejujurnya sejak dengar kabar ini saya udah nggak yakin. Tapi, saya tahu pada akhirnya saya akan tetap nonton di bioskop. Because I love these characters so much.



Cek malam-malam, jadwal untuk besoknya masih ada. Pas cek di hari H udah nggak ada. Hhhh untung di selain 21 di mall seberang ada Cinemaxx dan kebetulan masih tayang di sana. Langsung deh beli 1 tiket. Iyeee, nontonnya sendiri. Pertama, karena nggak mau ribet janjian dan udah lama juga nggak nonton sendiri. Kedua, rada males jelasinnya kalau ngajak temen. Dan takut filmnya nggak sesuai ekspektasi juga…

Di film ini Lisbeth Salander harus berurusan sama kepolisian karena jadi tersangka pembunuhan Frans Balder sekaligus dikejar Ed Needham dari NSA karena udah meretas sistem mereka. Lisbeth pun harus minta tolong ke Blomkvist yang udah lama banget dia cuekin. Harus berurusan kembali dengan kembarannya, Camilla, Lisbeth berhasil mengakali agen NSA yang mengejarnya untuk akhirnya bantuin dia. Terlepas dari source material-nya, film ini lumayan enjoyable. Terutama kalau kalian suka film laga dan thriller yah. Kalaupun bisa nebak, kalian tetap terbawa suasana tegang yang dibangun. Oh iya, film ini disutradarai Fede Alvarez yang sebelumnya bikin Evil Dead (belom nonton) dan Don't Breathe (suka!). Cek dulu trailer-nya deh.



Adaptasi dari Bukunya
Udah mah yang nulis bukunya bukan penulis aslinya, adaptasinya juga beda banget sama bukunya. Mungkin untuk memangkas budget dan durasi filmnya. Apa aja bedanya? B a n y a k. 😊


Let me get my list.

Lisbeth sebenarnya bukan tersangka pembunuhan Frans Balder dan dia nggak ada di TKP waktu Frans tewas. Memang dia jadi tersangka penculikan, padahal waktu itu lagi mau menyelamatkan August. August Balder menderita autisme dan sebenarnya cuma bisa ngomong beberapa kata. Tapi dia punya kemampuan menggambar dan matematika yang luar biasa. Jadi, August itu savant. Orang-orang yang punya savant syndrome biasanya menderita neurodevelopmental disorder seperti autisme atau cedera otak, tapi punya kemampuan yang di atas rata-rata di suatu bidang. Sindrom ini langka banget, cuma 1 dibanding 1 juta. Bahasa Indonesianya savant apa yah? Kalau kata Google Translate sih orang terpelajar. Hahaha. Di buku Frans akhirnya ngeh kalau anaknya bisa menggambar dengan sangat akurat. Bahkan gambarnya beberapa kali dideskripsikan seakan punya ‘mathematical precision,’ kayak diperhitungkan banget bentuk dan bayangannya sampai gambarnya jadi realistis. August berhasil menggambar pembunuh ayahnya dan dengan begitu jadi saksi kunci. Masalahnya, kosakatanya terbatas banget. Nggak bisa juga dong dipaksa harus gambar. Lisbeth harus sabar banget nunggu August sampai dia mau gambar dan akhirnya August membantu Lisbeth membuka program yang dibuat Frans Balder, yang sebenarnya tentang AI (artificial intelligence). Waktu baca saya pikir juga bakalan susah nih adaptasi kemampuannya August ke film, tapi nggak nyangka bakalan jadi biasa banget gitu juga sih…

Ed Neeham pun! Oke, secara fisik saya lupa deskripsi karakternya gimana. Tapi saya ngebayangin penampilannya bakalan kayak Plague, versi yang lebih garang. Soalnya atasannya di NSA aja dibentak. Dia juga nggak semudah itu menemukan Salander. Dia butuh bantuan dari beberapa orang untuk akhirnya tahu bahwa Lisbeth alias Wasp yang udah meretas sistem mereka. Dan walaupun KZL, Ed juga kagum kalau Lisbeth bisa melakukan itu, dan juga karena dia juga mendapatkan data soal kebusukan NSA. Terlalu rumit emang, tapi saya tetep ngerasa bagian waktu Ed menemukan Lisbeth tuh terlalu mudah. Sementara Gabriella Grane… Filmnya kayak males nyari cast untuk memerankan Bublanski, Modig, dan tim kepolisian yang udah ada sejak awal novelnya. Jadi, mereka mengganti sosok otoritas dari Sapo itu dengan sosok Grane yang emang ada juga di bukunya.

Hubungan Lisbeth dan Camilla (dan keluarga Salander yang disfungsional ini) memang belum banyak diceritakan di trilogi aslinya. Hubungan mereka jauh lebih rumit dari itu dan kayaknya di film. And then there’s Blomkvist… yang sungguh TIDAK BERGUNA DI FILM INI. Hah. Ya sudah, lanjut aja ke poin berikutnya.

Kenapa Saya Nggak Suka Adaptasi Ini
Oke, iya, saya mungkin sedikit bias karena menurut saya Rooney Mara adalah Lisbeth Salander terbaik. Perbedaan adaptasi dari buku ke film pasti ada, karena pastinya harus mikirin budget dan durasi. Kalau masih nyambung sih nggak masalah. Yang saya nggak suka adalah, film ini terasa seperti mengkhianati karakter-karakternya. Terutama Lisbeth Salander. Seperti kata review di The Jakarta Post, “Foy is a fine Salander, but hers feels robbed of an identity.” Dan saya setuju banget. Oh, boy… harus dimulai dari mana yah.



Kenapa Salander jadi seperti dirinya sekarang ya karena segala kejadian buruk di masa lalunya. Punya ayah brengsek yang abusive ke ibunya, saudara kembar yang manipulatif dan tetap aja membela ayahnya walaupun tahu perlakukan sang ayah ke ibu mereka. Lisbeth dan Camilla saling benci. Bahkan Lisbeth mencoba membunuh ayahnya demi menyelamatkan ibunya. Tapi dia malah dimasukkan ke rumah sakit jiwa untuk anak-anak sementara ibunya nggak pernah pulih lagi dari cedera otaknya. Di sana (dan di beberapa momen lainya), Lisbeth dilakukan semena-mena karena dianggap lemah. Tapi dia membuktikan kalau dia bisa melawan, sampai akhirnya identitas dan tindak kriminal ayahnya dan orang yang udah memperlakukannya dengan buruk terbongkar. Dan walaupun penuh dengan amarah dan keinginan untuk balas dendam, Lisbeth selalu memperhitungkan langkah dan resiko dari tindakannya.

Sementara di film, jalan cerita sang ibu, Agneta, digabungkan ke karakter Camilla. Camilla yang jadi korban kekerasan dari ayahnya, tapi dia juga yang meneruskan aktivitas kriminal Zala. Lisbeth kecil di film ini dikisahkan dekat dengan Camilla layaknya anak kembar pada umumnya. Lantas, seperti yang Camilla bilang, kenapa Lisbeth nggak mencoba menyelamatkan Camilla? Dengan menghilangkan kisah sang ibu dan hubungan rumit antara Lisbeth dan Camilla, ada bongkahan besar cerita yang hilang di sini. Terus gimana ceritanya Lisbeth kecil yang loncat dari rumah mereka bisa selamat? Kalau menurut cerita ini, dari mana dia belajar komputer dan hacking? Terus siapa pula wanita yang diselamatkan Lisbeth di awal film? Waktu liat trailer saya pikir itu Hanna Balder dan saya tersenyum karena setidaknya bagian itu sesuai. Ternyata bukan. Memang Lisbeth tuh termasuk vigilante yah, tapi dia juga bukan tipe yang mencoba menyelamatkan semua orang. Yang dia selamatkan pasti masih ada hubungannya dengan masa lalunya atau dengan kasus yang lagi dia selidiki. Karena balik lagi ke poin sebelumnya, Lisbeth tuh memperhitungkan banget tindakan dan resiko dari tindakannya.



Dan Blomkvist… Duh, sedih sih. Pas baca novel lanjutannya masih ngebayangin Daniel Craig yang jadi Blomkvist. Terus di sini Blomkvist-nya gabut banget woy. :) Seriously, he was just worrying about stuffs. Tulisan Blomkvist yang dibantu investigasinya oleh Salander atau yang ada hubungannya dengan Salander (waktu terbongkar soal identitasnya Zala) emang bisa dibilang beberapa dari tulisannya Blomkvist yang paling bagus. Tapi di film ini Blomkvist nggak ada taringnya sama sekali. Padahal dia ini ceritanya salah satu jurnalis paling hebat di Swedia loh. Kecemburuan Erika Berger terhadap Salander juga agak kurang pas. Dia sebenarnya cuma nggak mau Blomkvist melakukan sesuatu yang ilegal demi saling bantu dengan Salander. Malah, dia juga bantu mencarikan safe house untuk Salander dan August.

In short, I hate that this movie oversimplified Salander’s history, so much that it feels like a betrayal to her character.

Buku Selanjutnya
Almarhum Stieg Larsson, penulis aslinya, sebenarnya berencana membuat lebih dari tiga buku. Sayang, umurnya nggak panjang. Larsson meninggal dunia tanpa pernah menikmati kesuksesan novelnya yang rilis setelah dia tiada. Hak propertinya pun sempat diperebutkan di antara ayah dan kakak Larsson, dengan kekasihnya yang juga merasa berhak. Trilogi aslinya yang ditulis Larson disebut juga Millennium Trilogy udah diadaptasi di negara asalnya. Di versi Swedia itu, Noomi Rapace didaulat menjadi Lisbeth, sementara karakter Blomkvist diperankan oleh Michael Nyqvist. Mungkin, Lagercrantz punya materi yang rencananya akan digunakan Larson di buku selanjutnya untuk menjelaskan masa lalu Salander. Di buku selanjutnya, The Girl Who Takes An Eye for An Eye, kisah utamanya berputar di pasangan anak kembar yang sengaja dipisahkan untuk jadi bahan eksperimen. Lisbeth lagi-lagi harus menyelam ke masa lalunya.

Setelah nonton film ini saya harus nonton video behind the scene film versi Fincher saking sebelnya, sambil berharap Hollywood nggak usah repot-repot bikin sekuel dari adaptasi ini.



Saya sudahi sampai di sini marah-marahnya. Sampai bertemu di postingan berikutnya!

May 7, 2018

Review Suka-Suka: 'Avengers: Infinity War'


Dari beberapa ide yang belum sempat dituangkan ke draft untuk postingan baru, saya memutuskan untuk nulis tentang film ini dulu karena masih hangat dibicarakan. Apalagi kalau bukan Avengers: Infinity War. Bingung juga sih mau review dari mana karena lokasi ceritanya buanyak, tokohnya juga buanyak. Berhubung judulnya aja review suka-suka, saya akan bahas sesuka saya aja. HAHAHAHA.

SPOILERS EVERYWHERE


Pertama, sedih banget yah jadi pengungsi. Nyeberang ke pulau lain aja bisa tenggelam. Ini lagi, melintasi planet dan ketemu pasukan Thanos duluan. Apes betul nasib orang-orang Asgard. Udah prediksi Loki bakal mati, cuma saya pikir dia bakal berkhianat lebih jauh sampai akhirnya Avengers lain gregetan. Ternyata malah dihabisi Thanos sendiri dan Loki tewas bukan sebagai pengkhianat. :’)
Thor milord… Saya suka karakternya bukan karena dia tambah jago di film ini. Saya suka karena walaupun dia dewa dan kuat banget, tapi dia nggak pinter-pinter amat. Jadinya kocak. Sempet-sempetnya curcol sama Gamora ngomongin konflik keluarga. Terus langsung akrab sama Rocket yang tentunya dia panggil ‘rabbit’. Bisa bahasa Groot, tapi nggak bisa bedain rakun sama kelinci. Bloon kan si Thor. Gemes! Sesaat sebelum filmnya rilis, saya baru tahu kalau Peter Dinklage jadi cameo di film ini. Ternyata dia jadi Eitri, dwarf yang menciptakan Mjolnir dan senjata lainnya. Aha, kebetulan saya udah baca Mitologi Nordik-nya Neil Gaiman, jadi begitu Tyrion Peter Dinklage muncul dan diperkenalkan sebagai Eitri, saya langsung menyikut Imel di sebelah saya dan ngebisikin, “Aaah ini kayak di mitologinya!!” Keren parah lah Thor dan senjata barunya, Stormbreaker. Waktu nonton pertama kali, pas Thor akhirnya tiba di Wakanda, saya dan penonton lainnya tepuk tangan dong itu saking kerennya...

Hajar, Bang!


Berhubung saya suka Benedict Cumberbatch setelah nonton BBC Sherlock, tentunya saya seneng banget waktu dia gabung ke MCU. Perannya sebagai Doctor Strange sebelas-dua belas belagunya kayak Sherlock. Saya dan fans lainnya juga semangat akan kemungkinan bertemunya Bang Ben dan Sherlock yang satunya lagi. Tapi saya nggak nyangka kalau mereka bakalan adu akting dari awal sampai akhir film. Yah, walaupun nggak sempet ada jokes soal Sherlock sih. Ehe. Dan saya percaya sebenernya Doctor Strange tahu apa yang dia lakukan ketika dia menyerahkan Time Stone ke Thanos.
Two Sherlocks walk into the Marvel Cinematic Universe…


Lanjut ke karakter Thanos dan anak-anaknya. Selama ini kita hanya tahu namanya dan bahwa dia akan segera datang, tapi nggak tahu kenapa dia bisa jadi sejahat itu. Curiga Thanos nih suka baca makalah tentang human security kayak bacaan kuliah saya dulu. Secara dia ternyata peduli sama isu kekurangan pangan dan overpopulasi. 😂 Dia juga suka mungut anak yah. Waktu dia nangis ketika akan menukar Gamora dan Soul Stone, saya pikir dia nangis buaya. Tapi waktu Mantis lagi ‘menghipnotis’ Thanos dan mendeskripsikan perasaannya, ternyata dia beneran sayang gitu sama Gamora? Ah, saya berkaca-kaca waktu adegan Gamora, segala pake slow motion segala. Padahal saya udah mulai suka karakternya yang judes dan tangguh sejak GoTG 2.

Sempat baca sekilas, kalau di komiknya Thanos melakukan pembantaian karena dia ingin membuat Mistress Death atau Lady Death terkesan. Yaelah, bikinin candi aja napa, nggak usah genosida segala… Thanos dan anak-anaknya alias Black Order nih emang full CGI yah, dengan motion capture jadi gerakannya lebih realistis. Saya suka banget sama Proxima Midnight (suka salah sebut sama Proxima Nova yang mana adalah nama font hahaha). Cewek sendiri di Black Order, tangguh banget, serem, tapi keren gitu penampilannya. Ternyata Proxima Midnight dan Corvus Glaive tuh suami-istri. Kompak bener… jahatnya. Eh iya, kemaren nonton lagi dan ngeh CGI-nya aneh waktu Banner ada di dalam Hulkbuster pas helmnya udah kebuka. Kurang nyatu gitu animasinya. Oh well... Yang pasti semua teknologi ini yang bikin budget filmnya jadi membengkak dan Infinity War sekarang jadi salah satu film termahal yang pernah dibuat. Tapi dengan rekor box office di mana-mana, kayaknya mah bakalan balik modal.

Secara keseluruhan, dengan alur yang lumayan cepat dan durasi yang panjang, saya nggak bosan karena banyak komedi yang bertebaran. Belum lagi penampilan dan skill para Avengers yang keren pisan. Belum lagi karakter wanitanya yang nggak kalah keren. Waktu Okoye melirik Banner yang jatuh waktu lari pakai Hulkbuster? Savage. Waktu lagi-lagi Okoye dan Black Widow melawan Proxima Midnight? Ini badass banget sih. Terus waktu Wanda dengan mudah mengalahkan Proxima, Okoye sempet aja protes, “Lah, kenapa tadi dia disuruh tinggal di atas?” Hahaha. Kayaknya kalaupun belum nonton banyak film Marvel sebelumnya, alur cerita film ini cukup mudah untuk diikuti. Tapi sayang aja sih, karena walaupun tetep ngerti, ada banyak jokes yang pasti meleset. Hehe. Mengenai ending-nya… Sebenernya saya nggak masalah kalau beberapa karakter emang harus mati. Masalahnya adalah, kita tahu bahwa beberapa aktor itu udah tanda tangan kontrak untuk film lainnya. Jadi, kayaknya masih ada kemungkinan beberapa karakter bisa kembali lagi.

Ya ampun pas nonton pertama kali gedeg banget sama Star-Lord.

Pertama kali saya nonton sama Imel dan sepupu saya. Dua-duanya heboh banget waktu Captain America muncul. Yha emang sih ganteng banget yaaah Chris Evans brewokan gitu. Dan saya suka ngebisikin Imel apa tiba-tiba terlintas di kepala dan langsung ngakak berdua. Misalnya… Waktu Captain muncul, “Wah, ternyata Captain America anak kereta!” Waktu Doctor Strange disiksa Ebony Maw, “Lagi akupunktur nih.” Dan terakhir waktu Thanos malah santai di sawah. Imel heboh ngomong, “Ini di Indonesia??!” (dikira kita doang yang makan nasi hahaha) dan langsung saya jawab, “Ini kok kayak iklan RCTI jadul??!” Dan bener aja ada yang bikin editannya.



Saya akan tutup postingan ini dengan pertanyaan berikut. Dari mana Thor sempet ambil jubah baru sebelum sampai di Wakanda? Saya kepikiran loh. Terus, baru kali di film ini kan Bucky dipanggil White Wolf? Rupanya ini bisa jadi kelanjutan yang seru, gaes. Baca di sini deh. Kembalikan Bucky-ku! Sebel banget dari semua yang musnah kenapa harus Bucky duluan sih? Untung ada yang bikin ini. :">

Satu lagi, kemaren baru aja ngeh. Bucky Barnes dan Jon Snow sama-sama White Wolf dong julukannya. I think I’ve found my favorite type of guy. Hahahaha... Okay, but first, he needs to be resurrected.

April 18, 2018

Review Suka-Suka: Buku dan Film 'Call Me By Your Name'



Salahkan Armie Hammer. Dari dulu juga saya tahu dia cakep, tapi tiap lihat dia dulu kok kayaknya biasa aja. Just another pretty face, pikir saya. Sampai akhirnya liat trailer Call Me By Your Name… Nah, berhubung saya suka buku dan filmnya, dan malah keduluan Khara nulis review-nya, saya jadi pengen nulis semacam review-nya juga nih, mulai dari buku, filmnya, lanjut ke bukunya lagi. Haha. Here we go!

Karena urusan kerjaan, setiap harinya saya baca banyak artikel. Waktu itu sudah hampir award season, dan ada banyak banget artikel yang memperkirakan CMBYN bakal menang banyak. Saking seringnya lihat tuh judul film, saya pun penasaran dan langsung cari trailer-nya di YouTube. Tahu nggak rasanya lihat trailer dan langsung bisa nebak kalau filmnya bakalan bagus? Ya kaaan, kalau trailer filmnya aja malesin, gimana mau nonton? Setting tempatnya bagus dan dari trailer pun belum terlalu ketebak jalan ceritanya. Walaupun sempet negative thinking kalau salah satu karakternya bakalan mati. Ehe. Saya lihat trailer itu berkali-kali dan bertekad akan nonton filmnya. Via online streaming tentunya karena percuma nunggu film macam ini tayang di Indonesia. Kecuali kalau tiba-tiba menang Best Picture Oscar tuh kayak 12 Years A Slave atau The Shape of Water.



Terus, saya tahu dari artikel lain kalau film ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya André Aciman yang dirilis tahun 2007. Sebisa mungkin saya lebih suka membaca dulu bukunya sebelum nonton film yang diadaptasi dari buku itu. Iseng cari versi EPUB dan langsung ketemu! Huehe. Malam itu juga dalam perjalanan pulang di kereta saya mulai baca. Kayaknya saya sempet bikin thread di Twitter selama baca deh. *ubek Twitter* Ah, ini dia.


E ini kok nggak muncul thread-nya. Hahaha yaudah tinggal klik kalo kepo yaaak...

Oke, bahas bukunya dulu. Sempet mau baca ulang bukunya sebelum nulis ini, tapi kayaknya kelamaan yak. Jadi, berdasarkan yang saya ingat dan rasakan (tsah) pas baca aja ya… Udah nggak segreget kayak waktu bener-bener selesai baca sih.

Karena diceritakan dari sudut pandangnya Elio, kita jadi tahu pemikirannya Elio yang paling dalam, sampai ke fantasi dan pikiran mesumnya soal Oliver. Dia mencoba menelaah, sejak kapan sih gue jadi suka Oliver dan sejak kapan dia jadi sangat berarti buat gue? Sejak pertama kali menyapa? Sejak dia entah sengaja atau nggak, kulit mereka bersentuhan? Sejak sadar kalau omongan kalian nyambung dengan begitu mudahnya? Atau sejak pertama kali lihat dia dengan kemeja birunya? Kalau saya sih sejak album Coexist… OH BEDA OLIVER. Yah mulai jayus padahal baru mulai review. Mohon maaf.


Nah, menurut saya ini relatable banget sih. Entah karena udah terbawa perasaan atau gimana, kadang saya lupa atau nggak peduli sejak kapan sebenarnya suka sama seseorang. Tapi pernah tiba-tiba kepikiran gitu. Sejak kapan dan kenapa sih bisa suka sama nih orang? Padahal mah ngobrol juga nggak… cuma mengagumi dari kejauhan. Elio juga ngerasa nggak mungkin banget Oliver bakal membalas perasaannya, walau sejak awal udah menangkap sinyal-sinyal yang berbeda dan malah bikin tambah bingung. Sampai akhirnya makin yakin kalau Oliver juga flirting ke dia. Salah satu adegan yang bikin berkata, “NAH!” adalah waktu Oliver mijat bahunya Elio waktu break main voli. Oliver mau memastikan responsnya Elio. Sementara bagi Elio, ketahuan sudah. Dia speechless dan dia sadar ketidakmampuannya berkata-kata itu mengungkapkan kelemahannya.

Walaupun pinter dan jauh lebih dewasa dari umurnya, Elio tetep aja bocah waktu pertama kali ngerasain jatuh cinta. Ya indahnya, ya tersiksanya. Tau kan rasanya berandai-andai kalau orang itu bakal membalas perasaan kita juga, berusaha bertindak, terus ketika orangnya menghilang atau pergi sama yang lain gedek sampai bertanya-tanya sendiri, ‘Kenapa sih harus kenal sama dia dan bikin ngerasa tersiksa gini?’ Bahkan, ketika akhirnya mereka udah bersama, Elio masih ngerasa harus meyakinkan dirinya sendiri mengenai apa yang sebenarnya dia mau. Sampai akhirnya Elio sadar mereka nggak mungkin menjalin hubungan yang lebih dari itu. So, he settled for less and start counting the days.


"Are you saying what I think you're saying?"

Sementara di filmnya…
Pikiran Elio nggak dituangkan ke dalam narasi, melainkan dari curi-curi pandang dan gestur yang dimainkan dengan apik oleh Timothée dan Armie. Membangun ketegangannya juga cukup dari gestur dan dialog aja. Kalau menurut saya di bukunya lebih fisik sih, ada adegan mereka tempel-tempelan kaki di bawah meja makan gitu deh... Waktu pertama nonton saya sempet mikir, Ini nanti yang nggak baca bukunya bakalan bingung deh kayaknya kenapa mereka bisa saling jatuh hati. Apalagi diliatin juga kalau keduanya sama-sama jalan sama wanita. Kesannya kayak sekedar ketertarikan fisik aja. Padahal lebih dari itu. Elio ngerasa nyambung, sepikiran, dan diapresiasi kalau ngobrol sama Oliver, misalnya waktu Oliver nanya pendapat Elio soal tulisannya.

Biarpun sebisa mungkin menghindari interview yang jelas-jelas judulnya udah mengandung spoiler, sebelum selesai baca bukunya saya udah terlanjur terekspos lumayan banyak spoiler. Salah sendiri juga sih, nontonin interview Armie dan Timmy terus. Hahahaha. Misalnya waktu peach scene, terus monolog ayahnya Elio, dan adegan ending waktu Elio nangis di depan perapian. Ketika tahu filmnya berakhir di situ, sejujurnya saya sedikit kecewa. Ternyata, sang penulis juga sempet ngerasa begitu. Belum selesai baca pun udah banyak pemberitaan soal kemungkinan sekuel dari film ini. Tapi yah namanya juga buku dan film, medianya udah beda banget. Nggak bisa dibandingin. Di film, adaptasinya udah bagus banget. Sementara di buku, saya nggak bisa nangkep kebanyakan dari cultural references yang disebutin, tapi tetap bagus banget juga dan bikin patah hati. :))

“Kamu nangis nonton Call Me by Your Name? Aku juga udah nonton, tapi nggak segitunya ah. Iya sih ending-nya sedih, tapi nggak sampai nangis…” Seorang teman bertanya setelah akhirnya nonton CMBYN juga. Sebelumnya dia pasti udah kenyang dengerin saya ngomongin Armie Hammer.
Saya merasa perlu mengklarifikasi. Hazek. Spoiler dari ending di bukunya nih, siapa tahu kalian nggak mau tahu supaya tetap penasaran pas nonton sekuelnya nanti. Eh tapi, menurut saya baca aja sih. Karena dilihat dari filmnya, adaptasi sekuelnya pun pasti bakalan beda banget.


Okay, last chance to avoid the spoilers.



Yang bikin nangis itu bagian akhir di bukunya. Elio dan Oliver sama-sama tahu kalau mereka pada akhirnya harus berpisah. Mereka cuma bisa bersama di musim panas tahun 1983 itu. Elio pun tahu, Oliver mungkin aja balik ke Italia untuk mampir ke tempat mereka, tapi keadaan nggak akan pernah sama lagi. Waktu Oliver pulang ke AS dan Elio pulang ke rumahnya, ayahnya ngajak dia bicara dan monolognya itu bikin saya terharu. Intinya sang ayah merestui persahabatan atau apapun hubungan anaknya itu dengan Oliver. Dia bilang mereka berdua orang yang baik dan beruntung udah menemukan satu sama lain. Begitu sampai di Amerika, Oliver nelpon ke kediaman Pearlman. Teleponnya sih biasa aja dan dari dialognya saya awalnya merasa masih ada harapan. LDR-an kek gitu. Ternyata nggak juga. Oh iya, ada satu karakter di buku yang sayangnya nggak ada di filmnya seorang anak bernama Vimini, tetangganya Elio. Anak kecil pinter ini sakit leukimia dan tahu kalau waktunya hidup nggak lama lagi. Dia deket banget sama Oliver dan ikutan sedih waktu Oliver balik ke Amerika tanpa pamitan.

Oliver sempat datang ke Italia lagi waktu Natal. Nah, kalau nggak salah di momen ini dia bilang soal rencananya untuk menikah. Waktu baca saya lumayan kaget sih. Kayak… Okay, why didn’t I see that coming? Terus di halaman berikutnya saya sempet kesel banget sama karakternya Oliver. Kok tega sih? Nggak ngomong apa-apa pula, tapi akhirnya ngaku kalau selama dua tahun belakangan hubungannya emang putus nyambung. Kan saya ikutan patah hati… 💔

Elio dan Oliver beberapa kali ketemu lagi berpuluh tahun kemudian. Saya gregetan karena Elio bersikap seakan dia udah bener-bener move on dan menemukan cinta yang lain. Padahal pembaca tahu dia narator yang nggak bisa dipercaya dan cuma Oliver yang benar-benar menghantui kehidupannya. Elio tahu banget sepak terjang Oliver, begitu pun sebaliknya. Oliver pun mengakui kalau hidup yang dia jalani sekarang ini seperti parallel life, kayak kehidupan alternatif gitu. Berarti kan dalam hati sebenarnya ada bagian dari diri Oliver yang berharap dia bisa tetap bersama Elio. Tapi, karena beberapa hal, dia nggak bisa dan harus menjalani kehidupan yang ‘normal’. Aaah pokoknya baca bagian terakhir itu bikin saya nangis sesenggukan di bantal pukul 3 dini hari. SEBEL. Lagu soundtrack-nya yang ‘Mystery of Love’ juga sungguh tidak membantu. Sedih, cuy. Mana setelah selesai baca tuh lagi suka-sukanya lagu ‘Too Good At Goodbyes’ juga. Kebetulan yang menyebalkan.


Nggak lama kemudian saya baru tahu juga kalau CMBYN ada audiobook-nya. Dan naratornya adalah tidak lain dan tidak bukan... Armie Hammer yang cakep, lucu, dan suaranya juga seksi itu. Yep. Seakan lagi menyimak Oliver lagi baca jurnalnya Elio deh pas denger. Saya jadi penasaran nih bakalan kayak gimana kalau bagian akhir bukunya diadaptasi ke film.

Panjang yah... :’)
Suatu hari nanti mungkin saya akan baca ulang bukunya. Dan kalau interpretasi saya berubah, saya kabarin lagi deh ya. Ehehe. Later!
x
Read the Printed Word!