May 7, 2018

Review Suka-Suka: 'Avengers: Infinity War'


Dari beberapa ide yang belum sempat dituangkan ke draft untuk postingan baru, saya memutuskan untuk nulis tentang film ini dulu karena masih hangat dibicarakan. Apalagi kalau bukan Avengers: Infinity War. Bingung juga sih mau review dari mana karena lokasi ceritanya buanyak, tokohnya juga buanyak. Berhubung judulnya aja review suka-suka, saya akan bahas sesuka saya aja. HAHAHAHA.

SPOILERS EVERYWHERE


Pertama, sedih banget yah jadi pengungsi. Nyeberang ke pulau lain aja bisa tenggelam. Ini lagi, melintasi planet dan ketemu pasukan Thanos duluan. Apes betul nasib orang-orang Asgard. Udah prediksi Loki bakal mati, cuma saya pikir dia bakal berkhianat lebih jauh sampai akhirnya Avengers lain gregetan. Ternyata malah dihabisi Thanos sendiri dan Loki tewas bukan sebagai pengkhianat. :’)
Thor milord… Saya suka karakternya bukan karena dia tambah jago di film ini. Saya suka karena walaupun dia dewa dan kuat banget, tapi dia nggak pinter-pinter amat. Jadinya kocak. Sempet-sempetnya curcol sama Gamora ngomongin konflik keluarga. Terus langsung akrab sama Rocket yang tentunya dia panggil ‘rabbit’. Bisa bahasa Groot, tapi nggak bisa bedain rakun sama kelinci. Bloon kan si Thor. Gemes! Sesaat sebelum filmnya rilis, saya baru tahu kalau Peter Dinklage jadi cameo di film ini. Ternyata dia jadi Eitri, dwarf yang menciptakan Mjolnir dan senjata lainnya. Aha, kebetulan saya udah baca Mitologi Nordik-nya Neil Gaiman, jadi begitu Tyrion Peter Dinklage muncul dan diperkenalkan sebagai Eitri, saya langsung menyikut Imel di sebelah saya dan ngebisikin, “Aaah ini kayak di mitologinya!!” Keren parah lah Thor dan senjata barunya, Stormbreaker. Waktu nonton pertama kali, pas Thor akhirnya tiba di Wakanda, saya dan penonton lainnya tepuk tangan dong itu saking kerennya...

Hajar, Bang!


Berhubung saya suka Benedict Cumberbatch setelah nonton BBC Sherlock, tentunya saya seneng banget waktu dia gabung ke MCU. Perannya sebagai Doctor Strange sebelas-dua belas belagunya kayak Sherlock. Saya dan fans lainnya juga semangat akan kemungkinan bertemunya Bang Ben dan Sherlock yang satunya lagi. Tapi saya nggak nyangka kalau mereka bakalan adu akting dari awal sampai akhir film. Yah, walaupun nggak sempet ada jokes soal Sherlock sih. Ehe. Dan saya percaya sebenernya Doctor Strange tahu apa yang dia lakukan ketika dia menyerahkan Time Stone ke Thanos.
Two Sherlocks walk into the Marvel Cinematic Universe…


Lanjut ke karakter Thanos dan anak-anaknya. Selama ini kita hanya tahu namanya dan bahwa dia akan segera datang, tapi nggak tahu kenapa dia bisa jadi sejahat itu. Curiga Thanos nih suka baca makalah tentang human security kayak bacaan kuliah saya dulu. Secara dia ternyata peduli sama isu kekurangan pangan dan overpopulasi. 😂 Dia juga suka mungut anak yah. Waktu dia nangis ketika akan menukar Gamora dan Soul Stone, saya pikir dia nangis buaya. Tapi waktu Mantis lagi ‘menghipnotis’ Thanos dan mendeskripsikan perasaannya, ternyata dia beneran sayang gitu sama Gamora? Ah, saya berkaca-kaca waktu adegan Gamora, segala pake slow motion segala. Padahal saya udah mulai suka karakternya yang judes dan tangguh sejak GoTG 2.

Sempat baca sekilas, kalau di komiknya Thanos melakukan pembantaian karena dia ingin membuat Mistress Death atau Lady Death terkesan. Yaelah, bikinin candi aja napa, nggak usah genosida segala… Thanos dan anak-anaknya alias Black Order nih emang full CGI yah, dengan motion capture jadi gerakannya lebih realistis. Saya suka banget sama Proxima Midnight (suka salah sebut sama Proxima Nova yang mana adalah nama font hahaha). Cewek sendiri di Black Order, tangguh banget, serem, tapi keren gitu penampilannya. Ternyata Proxima Midnight dan Corvus Glaive tuh suami-istri. Kompak bener… jahatnya. Eh iya, kemaren nonton lagi dan ngeh CGI-nya aneh waktu Banner ada di dalam Hulkbuster pas helmnya udah kebuka. Kurang nyatu gitu animasinya. Oh well... Yang pasti semua teknologi ini yang bikin budget filmnya jadi membengkak dan Infinity War sekarang jadi salah satu film termahal yang pernah dibuat. Tapi dengan rekor box office di mana-mana, kayaknya mah bakalan balik modal.

Secara keseluruhan, dengan alur yang lumayan cepat dan durasi yang panjang, saya nggak bosan karena banyak komedi yang bertebaran. Belum lagi penampilan dan skill para Avengers yang keren pisan. Belum lagi karakter wanitanya yang nggak kalah keren. Waktu Okoye melirik Banner yang jatuh waktu lari pakai Hulkbuster? Savage. Waktu lagi-lagi Okoye dan Black Widow melawan Proxima Midnight? Ini badass banget sih. Terus waktu Wanda dengan mudah mengalahkan Proxima, Okoye sempet aja protes, “Lah, kenapa tadi dia disuruh tinggal di atas?” Hahaha. Kayaknya kalaupun belum nonton banyak film Marvel sebelumnya, alur cerita film ini cukup mudah untuk diikuti. Tapi sayang aja sih, karena walaupun tetep ngerti, ada banyak jokes yang pasti meleset. Hehe. Mengenai ending-nya… Sebenernya saya nggak masalah kalau beberapa karakter emang harus mati. Masalahnya adalah, kita tahu bahwa beberapa aktor itu udah tanda tangan kontrak untuk film lainnya. Jadi, kayaknya masih ada kemungkinan beberapa karakter bisa kembali lagi.

Ya ampun pas nonton pertama kali gedeg banget sama Star-Lord.

Pertama kali saya nonton sama Imel dan sepupu saya. Dua-duanya heboh banget waktu Captain America muncul. Yha emang sih ganteng banget yaaah Chris Evans brewokan gitu. Dan saya suka ngebisikin Imel apa tiba-tiba terlintas di kepala dan langsung ngakak berdua. Misalnya… Waktu Captain muncul, “Wah, ternyata Captain America anak kereta!” Waktu Doctor Strange disiksa Ebony Maw, “Lagi akupunktur nih.” Dan terakhir waktu Thanos malah santai di sawah. Imel heboh ngomong, “Ini di Indonesia??!” (dikira kita doang yang makan nasi hahaha) dan langsung saya jawab, “Ini kok kayak iklan RCTI jadul??!” Dan bener aja ada yang bikin editannya.



Saya akan tutup postingan ini dengan pertanyaan berikut. Dari mana Thor sempet ambil jubah baru sebelum sampai di Wakanda? Saya kepikiran loh. Terus, baru kali di film ini kan Bucky dipanggil White Wolf? Rupanya ini bisa jadi kelanjutan yang seru, gaes. Baca di sini deh. Kembalikan Bucky-ku! Sebel banget dari semua yang musnah kenapa harus Bucky duluan sih? Untung ada yang bikin ini. :">

Satu lagi, kemaren baru aja ngeh. Bucky Barnes dan Jon Snow sama-sama White Wolf dong julukannya. I think I’ve found my favorite type of guy. Hahahaha... Okay, but first, he needs to be resurrected.

April 18, 2018

Review Suka-Suka: Buku dan Film 'Call Me By Your Name'



Salahkan Armie Hammer. Dari dulu juga saya tahu dia cakep, tapi tiap lihat dia dulu kok kayaknya biasa aja. Just another pretty face, pikir saya. Sampai akhirnya liat trailer Call Me By Your Name… Nah, berhubung saya suka buku dan filmnya, dan malah keduluan Khara nulis review-nya, saya jadi pengen nulis semacam review-nya juga nih, mulai dari buku, filmnya, lanjut ke bukunya lagi. Haha. Here we go!

Karena urusan kerjaan, setiap harinya saya baca banyak artikel. Waktu itu sudah hampir award season, dan ada banyak banget artikel yang memperkirakan CMBYN bakal menang banyak. Saking seringnya lihat tuh judul film, saya pun penasaran dan langsung cari trailer-nya di YouTube. Tahu nggak rasanya lihat trailer dan langsung bisa nebak kalau filmnya bakalan bagus? Ya kaaan, kalau trailer filmnya aja malesin, gimana mau nonton? Setting tempatnya bagus dan dari trailer pun belum terlalu ketebak jalan ceritanya. Walaupun sempet negative thinking kalau salah satu karakternya bakalan mati. Ehe. Saya lihat trailer itu berkali-kali dan bertekad akan nonton filmnya. Via online streaming tentunya karena percuma nunggu film macam ini tayang di Indonesia. Kecuali kalau tiba-tiba menang Best Picture Oscar tuh kayak 12 Years A Slave atau The Shape of Water.



Terus, saya tahu dari artikel lain kalau film ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya André Aciman yang dirilis tahun 2007. Sebisa mungkin saya lebih suka membaca dulu bukunya sebelum nonton film yang diadaptasi dari buku itu. Iseng cari versi EPUB dan langsung ketemu! Huehe. Malam itu juga dalam perjalanan pulang di kereta saya mulai baca. Kayaknya saya sempet bikin thread di Twitter selama baca deh. *ubek Twitter* Ah, ini dia.


E ini kok nggak muncul thread-nya. Hahaha yaudah tinggal klik kalo kepo yaaak...

Oke, bahas bukunya dulu. Sempet mau baca ulang bukunya sebelum nulis ini, tapi kayaknya kelamaan yak. Jadi, berdasarkan yang saya ingat dan rasakan (tsah) pas baca aja ya… Udah nggak segreget kayak waktu bener-bener selesai baca sih.

Karena diceritakan dari sudut pandangnya Elio, kita jadi tahu pemikirannya Elio yang paling dalam, sampai ke fantasi dan pikiran mesumnya soal Oliver. Dia mencoba menelaah, sejak kapan sih gue jadi suka Oliver dan sejak kapan dia jadi sangat berarti buat gue? Sejak pertama kali menyapa? Sejak dia entah sengaja atau nggak, kulit mereka bersentuhan? Sejak sadar kalau omongan kalian nyambung dengan begitu mudahnya? Atau sejak pertama kali lihat dia dengan kemeja birunya? Kalau saya sih sejak album Coexist… OH BEDA OLIVER. Yah mulai jayus padahal baru mulai review. Mohon maaf.


Nah, menurut saya ini relatable banget sih. Entah karena udah terbawa perasaan atau gimana, kadang saya lupa atau nggak peduli sejak kapan sebenarnya suka sama seseorang. Tapi pernah tiba-tiba kepikiran gitu. Sejak kapan dan kenapa sih bisa suka sama nih orang? Padahal mah ngobrol juga nggak… cuma mengagumi dari kejauhan. Elio juga ngerasa nggak mungkin banget Oliver bakal membalas perasaannya, walau sejak awal udah menangkap sinyal-sinyal yang berbeda dan malah bikin tambah bingung. Sampai akhirnya makin yakin kalau Oliver juga flirting ke dia. Salah satu adegan yang bikin berkata, “NAH!” adalah waktu Oliver mijat bahunya Elio waktu break main voli. Oliver mau memastikan responsnya Elio. Sementara bagi Elio, ketahuan sudah. Dia speechless dan dia sadar ketidakmampuannya berkata-kata itu mengungkapkan kelemahannya.

Walaupun pinter dan jauh lebih dewasa dari umurnya, Elio tetep aja bocah waktu pertama kali ngerasain jatuh cinta. Ya indahnya, ya tersiksanya. Tau kan rasanya berandai-andai kalau orang itu bakal membalas perasaan kita juga, berusaha bertindak, terus ketika orangnya menghilang atau pergi sama yang lain gedek sampai bertanya-tanya sendiri, ‘Kenapa sih harus kenal sama dia dan bikin ngerasa tersiksa gini?’ Bahkan, ketika akhirnya mereka udah bersama, Elio masih ngerasa harus meyakinkan dirinya sendiri mengenai apa yang sebenarnya dia mau. Sampai akhirnya Elio sadar mereka nggak mungkin menjalin hubungan yang lebih dari itu. So, he settled for less and start counting the days.


"Are you saying what I think you're saying?"

Sementara di filmnya…
Pikiran Elio nggak dituangkan ke dalam narasi, melainkan dari curi-curi pandang dan gestur yang dimainkan dengan apik oleh Timothée dan Armie. Membangun ketegangannya juga cukup dari gestur dan dialog aja. Kalau menurut saya di bukunya lebih fisik sih, ada adegan mereka tempel-tempelan kaki di bawah meja makan gitu deh... Waktu pertama nonton saya sempet mikir, Ini nanti yang nggak baca bukunya bakalan bingung deh kayaknya kenapa mereka bisa saling jatuh hati. Apalagi diliatin juga kalau keduanya sama-sama jalan sama wanita. Kesannya kayak sekedar ketertarikan fisik aja. Padahal lebih dari itu. Elio ngerasa nyambung, sepikiran, dan diapresiasi kalau ngobrol sama Oliver, misalnya waktu Oliver nanya pendapat Elio soal tulisannya.

Biarpun sebisa mungkin menghindari interview yang jelas-jelas judulnya udah mengandung spoiler, sebelum selesai baca bukunya saya udah terlanjur terekspos lumayan banyak spoiler. Salah sendiri juga sih, nontonin interview Armie dan Timmy terus. Hahahaha. Misalnya waktu peach scene, terus monolog ayahnya Elio, dan adegan ending waktu Elio nangis di depan perapian. Ketika tahu filmnya berakhir di situ, sejujurnya saya sedikit kecewa. Ternyata, sang penulis juga sempet ngerasa begitu. Belum selesai baca pun udah banyak pemberitaan soal kemungkinan sekuel dari film ini. Tapi yah namanya juga buku dan film, medianya udah beda banget. Nggak bisa dibandingin. Di film, adaptasinya udah bagus banget. Sementara di buku, saya nggak bisa nangkep kebanyakan dari cultural references yang disebutin, tapi tetap bagus banget juga dan bikin patah hati. :))

“Kamu nangis nonton Call Me by Your Name? Aku juga udah nonton, tapi nggak segitunya ah. Iya sih ending-nya sedih, tapi nggak sampai nangis…” Seorang teman bertanya setelah akhirnya nonton CMBYN juga. Sebelumnya dia pasti udah kenyang dengerin saya ngomongin Armie Hammer.
Saya merasa perlu mengklarifikasi. Hazek. Spoiler dari ending di bukunya nih, siapa tahu kalian nggak mau tahu supaya tetap penasaran pas nonton sekuelnya nanti. Eh tapi, menurut saya baca aja sih. Karena dilihat dari filmnya, adaptasi sekuelnya pun pasti bakalan beda banget.


Okay, last chance to avoid the spoilers.



Yang bikin nangis itu bagian akhir di bukunya. Elio dan Oliver sama-sama tahu kalau mereka pada akhirnya harus berpisah. Mereka cuma bisa bersama di musim panas tahun 1983 itu. Elio pun tahu, Oliver mungkin aja balik ke Italia untuk mampir ke tempat mereka, tapi keadaan nggak akan pernah sama lagi. Waktu Oliver pulang ke AS dan Elio pulang ke rumahnya, ayahnya ngajak dia bicara dan monolognya itu bikin saya terharu. Intinya sang ayah merestui persahabatan atau apapun hubungan anaknya itu dengan Oliver. Dia bilang mereka berdua orang yang baik dan beruntung udah menemukan satu sama lain. Begitu sampai di Amerika, Oliver nelpon ke kediaman Pearlman. Teleponnya sih biasa aja dan dari dialognya saya awalnya merasa masih ada harapan. LDR-an kek gitu. Ternyata nggak juga. Oh iya, ada satu karakter di buku yang sayangnya nggak ada di filmnya seorang anak bernama Vimini, tetangganya Elio. Anak kecil pinter ini sakit leukimia dan tahu kalau waktunya hidup nggak lama lagi. Dia deket banget sama Oliver dan ikutan sedih waktu Oliver balik ke Amerika tanpa pamitan.

Oliver sempat datang ke Italia lagi waktu Natal. Nah, kalau nggak salah di momen ini dia bilang soal rencananya untuk menikah. Waktu baca saya lumayan kaget sih. Kayak… Okay, why didn’t I see that coming? Terus di halaman berikutnya saya sempet kesel banget sama karakternya Oliver. Kok tega sih? Nggak ngomong apa-apa pula, tapi akhirnya ngaku kalau selama dua tahun belakangan hubungannya emang putus nyambung. Kan saya ikutan patah hati… 💔

Elio dan Oliver beberapa kali ketemu lagi berpuluh tahun kemudian. Saya gregetan karena Elio bersikap seakan dia udah bener-bener move on dan menemukan cinta yang lain. Padahal pembaca tahu dia narator yang nggak bisa dipercaya dan cuma Oliver yang benar-benar menghantui kehidupannya. Elio tahu banget sepak terjang Oliver, begitu pun sebaliknya. Oliver pun mengakui kalau hidup yang dia jalani sekarang ini seperti parallel life, kayak kehidupan alternatif gitu. Berarti kan dalam hati sebenarnya ada bagian dari diri Oliver yang berharap dia bisa tetap bersama Elio. Tapi, karena beberapa hal, dia nggak bisa dan harus menjalani kehidupan yang ‘normal’. Aaah pokoknya baca bagian terakhir itu bikin saya nangis sesenggukan di bantal pukul 3 dini hari. SEBEL. Lagu soundtrack-nya yang ‘Mystery of Love’ juga sungguh tidak membantu. Sedih, cuy. Mana setelah selesai baca tuh lagi suka-sukanya lagu ‘Too Good At Goodbyes’ juga. Kebetulan yang menyebalkan.


Nggak lama kemudian saya baru tahu juga kalau CMBYN ada audiobook-nya. Dan naratornya adalah tidak lain dan tidak bukan... Armie Hammer yang cakep, lucu, dan suaranya juga seksi itu. Yep. Seakan lagi menyimak Oliver lagi baca jurnalnya Elio deh pas denger. Saya jadi penasaran nih bakalan kayak gimana kalau bagian akhir bukunya diadaptasi ke film.

Panjang yah... :’)
Suatu hari nanti mungkin saya akan baca ulang bukunya. Dan kalau interpretasi saya berubah, saya kabarin lagi deh ya. Ehehe. Later!
x

March 19, 2018

Jurnal Perjalanan: Belitong

Blues
Hola, sodara-sodara sebangsa dan setanah air. Sebelum memulai jurnal perjalanan yang sepertinya bakalan singkat aja ini, saya akan memberikan sedikit update. Hazek. Gatel sendiri karena setelah dilihat lagi, sepanjang tahun 2017 kemaren cuma bikin 4 postingan. Kenapa ya? Mungkin karena seharian di kantor udah berkutat dengan artikel, jadi untuk buka laptop lagi di rumah kok kayaknya males ya. Hehe. Jadi, saya berniat untuk lebih banyak posting di tahun ini. Mangats!

Saya ke Belitong akhir pekan lalu, 10-11 Maret. Dua hari satu malam aja dan jalan-jalannya masih sama teman-teman Mama, yang sebelumnya juga ke Dieng bareng. Ke sana naik pesawat dan sejujurnya saya nggak hapal nama-nama pulau yang kami singgahi, akhirnya bikin postingan ini sambil Googling. Dan walaupun cuma sebentar, saya dan Mama minjam koper kecil punya sepupu saya. HAHAHAHAHAwanita.

Waaaah Aligned Choose your boat Nggak bermaksud menghina atau gimana, tapi emang gini ribetnya jalan-jalan sama yang nggak seumuran. Pesawat ke Tanjong Pandan itu pukul 5.55 hari Sabtu pagi dari Soekarno-Hatta. Oke, emang harus sampai seenggaknya setengah jam sebelum itu, tapi kan nggak harus pagi-pagi buta juga. Mama ngotot berangkat pukul 2 pagi karena rombongan diminta stand by di sana pukul 3. Gini ya… rumah kami di Tangerang. Bandara itu juga di Tangerang, walaupun ya tetep jauh sih. Dini hari. Ya jalanan lancar dong. Akhirnya sampai di bandara pukul 3 kurang dan nunggu lumayan lama. Selama nunggu juga cuma ngobrol dan makan. Haha. Pokoknya nggak tidur deh malam itu, baru tidur di pesawat dan bener-bener baru bangun pas landing.

Sampai di Belitong (sebagaimana orang sana menyebutnya dan saya pun lebih suka menyebutnya begitu), kami dijemput pihak travel. Tour guide kami bernama Sahil dan wajahnya mirip sepupu saya. Masih 19 tahun! Ramah dan kelihatan banget kalau emang dia ngerti seluk-beluk Belitong, cara ngejelasinnya udah enak. Akhirnya ketahuan kalau dia orang asli Gantong, tempat asalnya Andrea Hirata. Waaah~

Pagi itu bisa pilih satu di antara 3 menu sarapan; sate, soto, atau mie Belitong. Saya pilih mie dan nggak nyesel. Mie telor biasa, tapi kuahnya tuh kaldu rasa makanan laut yang seger banget. Ada udangnya dan enak banget pake emping. Minumnya air jeruk hangat dan di sana tuh namanya jeruk kunci. Saya pikir ini semacam plesetan, ternyata eh ternyata... jeruk kunci = key lime. Nggak tau deh bedanya apa sama jeruk nipis biasa, rasanya sih nggak seasam jeruk nipis. Sesampainya di pantai, Mama sempet sakit perut. Entah karena pencernaannya kaget dengan makanan di sana atau karena jeruk kunci ya? Hmm…

Simple Mie Belitong Mother of cats
Lighthouse, Lengkuas Island
Aye, Captain Adrift
Itu saya yang agak jauh dan cuma kelihatan kayak jaket oranye terapung 😂

Dari beberapa pulau yang kami kunjungi, paling ingat sama Pulau Lengkuas karena ada mercusuarnya. Waktu mau merapat ke Pulau Kepayang, mulai gerimis sampai akhirnyas benar-benar hujan deras. Seru juga ngerasain kehujanan di pulau gitu. Tapi nggak tahan dinginnya aja sih. Karena itu baru aja selesai snorkeling, baru keanginan bentar, udah basah lagi kena air laut, dan kena hujan. Mengigil! Untungnya disedain kopi dan teh panas. Dan makanannya juga cepet banget datengnya. Langsung lahap. Udah kenyang, hujan reda, malah langsung panas lagi, lanjut lagi deh. Harusnya masih lanjut snorkeling lagi, tapi rombongan memutuskan kalau sudah cukup main airnya. Padahal belum… Dari segitu banyak spot snorkeling, cuma mampir di satu tempat aja. :(

Kong Djie Coffee Visible kitchen The iced one is also really good Aww it's cloudy :| Sunset Sorenya kami balik ke tempat awal, yang saya lupa namanya. Bilas di sana, ke Pantai Laskar Pelangi, foto-foto dan takjub sama bebatuan yang ada, lalu lanjut ke Pantai Tanjung Pendam untuk lihat sunset. Pantai lumayan ramai. Banyak orang sekitar yang ngajak anak-anaknya main. Berhubung masih pukul 4 sore dan ngantuk parah, saya pengen banget ngopi. Sementara ibu-ibu lainnya duduk di tepi pantai, saya, Mama, Sahil, dan seorang teman Mama melipir ke warung kopi di seberang jalan. Rupanya Kong Djie Coffee ini emang udah terkenal banget. Walaupun udah jadi franchise, menurut Sahil, rasanya tetep beda-beda di tiap cabangnya. Saya nyobain es kopi yang pakai tambahan susu kental manis lumayan banyak, tapi rasanya tetep pas. Sempat nyicipin sedikit kopi panasnya dan enaaak :’)

Look at those stones Laskar Pelangi Beach Laskar Pelangi Beach

Perburuan matahari terbenam kurang berhasil karena sore itu lumayan berawan. Sebelnya lihat air rasanya masih pengen nyebur lagi. Puas foto-foto akhirnya kami check in di hotel, nggak jauh dari pantai, di pusat kota Tanjung Pandan. Hotelnya enakeun. Sederhana tapi bersih, WiFi lumayan kenceng, ada air panasnya juga. Sampai sana mandi lagi karena rambut masih lengket banget. Setengah 8 malam, kami berangkat lagi untuk makan malam khas Belitong di restoran Belitong Timpo Duluk dan nyari oleh-oleh. Restoran ini kece banget buat yang suka foto-foto. Sesuai namanya, banyak dekorasi dan alat-alat jadul yang dipajang. Mulai dari taksi kuno, peralatan dapur yang dijadiin dekorasi dinding, sampai mesin tik, telepon, sepeda ontel, dan Vespa. Kalau makanannya sendiri saya kurang cocok. Hehe. Dan seperti biasa kalau nggak di rumah sendiri, pukul 10 malam pun udah tidur.

Shade Hello
Besoknya saya lumayan bersemangat karena agendanya ke Belitong Timur. Aaaah, this is what I came for! Seneng banget karena selama ini baca hampir semua bukunya Andrea Hirata yang semuanya berlokasi di tempat ini dan sekarang saya ada di sini. Waaah. Nggak kebayang kalau nanti bisa mampir ke Wizarding World of Harry Potter. Nangis kali. Namun, kenyataannya tak seindah yang saya bayangkan...

Hujan. Begitu sampai di Museum Kata nih ibu-ibu menolak turun dan lebih milih untuk “Lanjut aja, cari oleh-oleh lagi.” Ya ampun, kalau bukan karena Laskar Pelangi, saya mungkin nggak akan ikut nih. Kalau bukan karena seri novel itu juga, kalian mungkin nggak ada di sini karena tempat ini mungkin nggak jadi tempat tujuan wisata yang hits seperti sekarang ini. Maap, emosi. Lagipula, setelah dari Museum Kata, tujuan selanjutnya ke replika sekolah Laskar Pelangi. Dan itu lebih nggak mungkin mampir lagi karena letaknya ada di bukit kecil dan pasti nggak karuan beceknya (akhirnya cuma sempet foto dari mobil karena masih hujan deras). Jadi ya sudah, saya nggak peduli, saya turun dan foto-foto sepuasnya di Museum Kata. Habis dari sana rasanya pengen rajin nulis dan baca lagi bukunya Andrea Hirata yang saya punya.

Front yard Even more colorful in the rain Museum Kata Mozaic Be Inspired The school replica My favorite quote from the tetralogy
My favorite quote from my favorite character in the tetralogy 😭

Oh iya, di hari kedua itu sempet mampir juga ke Vihara Dewi Kwan Im, terbesar di Belitong. Letaknya di atas bukit dan entah kenapa begitu melihat sekeliling langsung inget Kung Fu Panda. Berasa ingin menuntut ilmu bela diri sama Master Shifu. Siang itu kami juga makan di Rumah Makan Fega yang Instagram-able dan enak tempatnya. Naksir sama bunga-bunga dan tanamannya yang terawat. 😍 Pas banget datang ke sana waktu memasuki waktu makan siang, masih sepi. Begitu kami selesai, entah berapa banyak mobil lagi berisi turis yang datang. Menjelang sore beneran lah pada mampir lagi untuk beli lebih banyak oleh-oleh. Pulangnya kejadian lagi nih. Pesawat pukul 5, udah sampai bandara sekitar setengah 4. Rajin bener… Untung bawa buku jadi nggak terlalu bosan. Pesawat delay 1 jam. Untunglah. Karena penerbangan sebelumnya delay-nya 4 jam. Mendarat dengan mulus di Soekarno-Hatta pukul 7 dan kembali disambut hujan.

I can't go up, it's too hottt The Goddess Around the vihara Pretty in pink Flowers Sea foods
A friendly dog

Yah, singkatnya perjalanannya cepet banget dan kayaknya untuk eksplor Belitong 2 hari 1 malam emang kurang deh. Hehe. Saya masih belum puas snorkeling dan baca-baca di Museum Kata, nggak mampir pula ke deretan warung kopi di Manggar. Tapi tetap senang karena pernah ke sana. Pantainya bagus-bagus dan jalanannya… udah diaspal mulus dan penggunanya sedikit banget jadi ke mana-mana lancar jaya~
Lain kali kalau ke sana lagi harus sama yang doyan main air dan kopi! More photos on my Flickr!

Next post ngomongin film kali ya…

January 29, 2018

The xx Live in Jakarta: I See You Tour

Loud Places

*fangirl mode: FULL ON*

Saya pernah cerita betapa saya sangat menantikan album terbaru The xx dan bagaimana saya jatuh cinta sama mereka di postingan ini. Dan akhirnya, netizen, akhirnyaaa… minggu lalu saya bisa lihat mereka secara langsung! Ini bakal jadi postingan yang panjang. Grab your snacks.

Still waiting...

Tahun lalu The xx ngumumin jadwal konser mereka di Asia, tapi kalau nggak salah negara Asia yang dikunjungi cuma Jepang, Korea Selatan, sama Singapura deh. Saya udah hampir nekat untuk bikin paspor demi bisa nonton konser mereka di Singapura. Yap, saya tahu ini udah tahun 2018 dan saya masih juga belum punya paspor. Kalah sama emak yang bentar lagi mau naik haji (ini beneran). Sebenarnya ada satu teman yang waktu itu serius ngajak nonton di Singapura. Namun, dengan segala pertimbangan yang ada, akhirnya nggak jadi. Walaupun cinta Oliver dan kawan-kawan, ternyata saya lebih cinta duit saya sendiri juga. Hahaha… Secara, beli tiket konser, tiket pesawat pulang-pergi, belum lagi akomodasi. Kecuali kalau bisa nginep di bandara macam Tom Hanks di film The Terminal. Yaudah akhirnya saya cukup puas dengan keputusan itu walaupun tetep ya pundung liat update mereka di sosial media. Kayaknya deket banget gitu loh Singapura itu. Kenapa nggak mampir ke sini sihhh? Saat itu mulai merasa pesimis kalau mereka akan mampir ke sini.

Takdir berkata lain. Hazek. Beberapa bulan kemudian, mereka ngumumin jadwal konser di Australia dan New Zealand, yang lanjut ke Asia di tahun 2018, termasuk Jakarta.

Dan saya kalah cepet sama teman saya Khara yang udah lebih dulu liat update mereka di Instagram, lantas mention saya di komen, “Dateng nggak?” Oh, tentunya saya harus datang. Deg-degan juga sih liat kabar terbaru soal harga tiketnya. Akhirnya presale diumumkan dan untuk VIP Rp600 ribu aja gitu harganya. Saat itu saya sedih. Karena udah mau langsung beli, tapi apalah daya... Sebagai sobat miskin, saya harus menunjukkan solidaritas dan menunggu gajian dulu untuk bisa beli itu tiket. Saya pikir, kalau memang harga normal nanti lebih mahal, seenggaknya nggak semahal konser lain kayaknya. Sengaja tuh nggak ngecekin tiketnya karena ngeri yang VIP sold out. Dan kayaknya emang sempat sold out, terus akhirnya jadi harga normal bukan presale lagi. Yang mana harganya tetep sama dong, segitu juga. HAHAHAHAHA. Saya bahagia.

Gajian. Booking tiket. Ke ATM. Bayar. Balik ke PC kantor. Ngecek email. Dan udah terpampang manis di kotak masuk, sebuah voucher elektronik yang tinggal ditukarkan nantinya. Bahagia lagi. Itu di awal November.

Fast forward ke beberapa bulan sebelumnya. Bulan Desember mulai deg-degan, apalagi setelah liat video ini. Ada beberapa fans yang diwawancara dan ngobrol mendalam tentang arti musik The xx bagi mereka. Dilengkapi dengan video mereka waktu manggung tentunya. Gregetan sendiri nontonnya.


Sampai akhirnya tiba juga hari yang dinantikan, 23 Januari. Saya baru nge-print e-voucher yang harus dibawa itu sehari sebelumnya. Sempat kepikiran untuk ke Kemayoran dulu, tuker e-voucher, biar pulang kerja udah bisa langsung masuk venue. Tapi nggak jadi. Saya pikir, Selaaaw, pulang tenggo aja, paling cuma antri sebentar. Tentunya saya salah besar, netizen yang budiman.

Such a long line

Sore itu hujan. Dan entah kenapa saya woles banget. Masih sempet telepon sama teman dan baru berangkat pukul 7 malam. Saya pikir Kuningan-Kemayoran nggak sejauh itu karena setelah cek di Google Maps, katanya perjalanan sekitar 25 menit aja. Sepertinya yang bikin perjalanan itu terasa jauh banget adalah hujan. Waktu berangkat udah tinggal gerimis lucu. Sampai kawasan Pasar Baru gerimis makin nggak lucu, lama-lama beneran hujan. Bang Go-Jek nawarin pakai jas hujan, tapi saya menolak. Pertama, tanggung, udah basah juga. Seenggaknya bawahan masih lumayan kering dan kaki aman karena pakai boots. Kedua, saya pikir di sana mau beli kaos merchandise mereka sekalian sebagai baju ganti. Tapi lama-lama senewen juga karena muter lumayan jauh untuk bisa sampai ke pintu 6 yang dituju. Untung Bang Go-Jek saat itu ramah. Jadilah kita ngobrol… soal pelanggaran lalu lintas yang sering kita temui sehari-hari. Hmm.

Dari jauh antrian udah terlihat. Saya makin yakin kalau ini dia pintu masuk yang benar. Turun Go-Jek dengan sumringah dan langsung gabung dengan antrian. Tapi kok… ini nggak salah ya antriannya? Panjang banget. Dan lamaaa banget baru bergerak maju. Celingak-celinguk, siapa tahu yang VIP dibedain gitu jalurnya, ternyata sama aja, gaes. Syedih. Makin syedih lagi setelah saya menyadari kalau orang-orang di sekitar saya ini kece-kece pisan. Serba modis dan cakep lah pokoknya. Yang cewek-cewek udah kayak selebgram gitu penampilannya. Sementara saya baju compang-camping, boots abal-abal (yang penting aman kena becekan weks :p), sebelum berangkat semangat curling rambut eeeh taunya kehujanan… Untung makeup dan alis masih aman. Teteup. Haha. Sempat kenalan sama cewek yang ngantri di sebelah saya, yang ternyata sendiri juga. Namanya Dila, tapi saya nggak sempet minta kontaknya. Dia ngaku lebih suka album The xx yang sebelumnya dan berharap mereka lebih banyak memainkan lagu lama. Di sekitar kami, seakan hampir semua orang saling kenal.

“Woi!”
“Eh, gile, apa kabar lu?”
“Terakhir kita ketemu di mana ya?”
“Konser Coldplay ya?”
“Wah iya bener!”
Lalu tiba-tiba ikut antri. Di depan saya. Ketemu temen sih oke-oke aja, tapi nggak usah nyelak antrian dong, sob. -_-

Pukul 8 lewat, saya ngerasa belum bergerak jauh dari awal antrian tadi. Mulai deg-degan. Kalian harus tahu, di bulan Januari itu, selang seminggu saya punya mimpi buruk yang sama. Entah mikirin apa sebelum tidur, saya mimpi ketinggalan nonton konser The xx. Begitu sampai venue acara udah bubar. Bayangin! Dua kali mimpi kayak gitu! Mau nggak mau, saat ngantri itu saya bergidik karena teringat lagi. Sambil antri, sahabat saya Radhit bilang kalau temannya, Windy, nonton The xx juga, tapi di GA section. Akhirnya kami kenalan singkat dan lanjut ngobrol di DM Twitter. Windy udah ada di dalam venue sementara saya makin senewen di antrian. Lumayan yakin kalau bakalan ngaret, tapi tetep aja deg-degan kalau seandainya telat masuk. Akhirnya sekitar setengah 9 saya berhasil menukarkan e-voucher menjadi wristband tanda masuk, pisah jalan sama Dila. Saya memilih jalan yang lurus, dia belok kanan. Beneran.

Entah mereka emang nggak buka merch table di sini, atau saya yang nggak lihat. Pokoknya saya nggak nemu, padahal udah niat mau beli kaosnya. Ngelewatin bar, sempet pengen beli air mineral, tapi males sendiri liat antriannya. Begitu juga antrian di toilet. Sempet salah masuk ke GA section pula. Saya nunggu hampir 30 menit sejak masuk. Sempet mau ke toilet tapi takut begitu masuk nggak bisa dapet di spot itu lagi. Nggak di depan banget sih, tapi lumayan dekat dengan tempat di mana Oliver akan berada. HAHAHA.

Seperti biasa, ada playlist asoy yang dimainkan sambil menunggu waktu manggung. Ada beberapa lagu yang asik dan tentunya saya nggak tahu itu lagu judulnya apa. Di belakang saya ada seorang pria yang suka teriak, entah udah terpengaruh alkohol atau gimana. Dia nggak teriak macam, “Aaaak, The xx! Jamie, Romy, Oliver!” atau apa kek gitu yang masih ada hubungannya sama band-nya. Dia cuma teriak “Aaaaaaarrrggghhhh!” sekitar tiga kali dan kenceng banget kayak jempolnya abis ketiban lemari. Kan kaget dan kesel dengernya.

Penonton makin ramai. Seneng juga karena makin banyak yang berhasil melewati antrian loket yang menyebalkan itu. Tiap lagu di playlist berakhir, penonton berteriak bersiap menyambut yang ditunggu. Ternyata belum. Beberapa kali dengan yakin bilang dalam hati, Fix, abis lagu ini nih mereka naik panggung. Eh, ternyata langsung otomatis berganti lagu lain dan kami lanjut nunggu. Satu lagu lagi berakhir dan berganti dengan lagu yang familiar.

“I’m coming out / I want the world to know / Got to let it show… TEEEEET”

Penonton bergoyang. Dalam hati berpikir, Lucu juga sih kalau mereka keluar sekarang. DAN BENER AJA. There. The three of them coming out of the backstage with that song!

The xx It's hard to say Hands up!

Jantung rasanya pindah ke tenggorokan. Atau itu permen karet yang baru saja saya telan? Entah. Pokoknya rasanya nggak karuan. Langsung refleks loncat, teriak, dan senyum tiga jari. Band yang didengerin tiap hari ada di depan mata, men! Dan ini penting: saya nggak nangis sama sekali! HAHAHA. I’m proud of you! *ngomong di depan cermin*

Performance

The xx di malam itu tampil bagus banget deh buat saya. Ada sih di satu lagu yang menurut saya suaranya agak sember, tapi lupa lagu apa. Kalau harus milih, kayaknya favorit malam itu waktu Infinity dan Loud Places. Saya cinta banget lagu Fiction, tapi saya lebih suka versi aslinya, bukan yang remix. Biasanya saya emang nggak terlalu suka versi remix, tapi yang mereka bawain malam itu bisa jadi pengecualian karena asik semua. Tata lampunya keren banget. Lagu Infinity kalau live di bagian akhirnya emang makin intens karena ditambahin hentakan drum (versi albumnya enggak), ditambah dengan lampu yang ngikutin beat. Keren gila. Terus udah kebayang betapa serunya Loud Places versi live dan bener aja. Lampu di lagu itu yang paling colorful dengan warna pelangi. Mungkin sebagai representasi dari albumnya Jamie, In Colour.

... to search for someone
Yang bikin paling bahagia selain bisa lihat mereka dari dekat adalah karena mereka juga kayaknya beneran seneng. Penonton malam itu emang seru. Kompak nyanyi bareng (apalagi pas single dari album baru) dan energinya luar biasa. Romy bilang terima kasih karena semuanya “have been so warm and welcoming” dengan sumringah, Oliver minta maaf karena butuh waktu lama untuk mereka bisa mampir ke Indonesia. Dan waktu bawain lagu On Hold, Oliver dengan senyum lebar membiarkan penonton nyanyi bareng, sebelum lanjut nyanyi, terus bilang, “I love you, Jakarta.” Yang tentunya saya balas dengan, “I love you, Oliver!”

Saya cukup puas dengan konsernya. Walaupun nggak berhasil maju sampai ke paling depan. Walaupun nggak dapet merchandise mereka. Nah soal ini, entah mereka nggak buka meja merchandise atau saya yang nggak liat. Keluar venue saya sempat nanya ke salah satu kru dan menurut dia emang nggak ada merch table tuh. Hm. Oh, dan mereka nggak bawain lagu A Violent Noise, Brave For You, dan Lips, yang biasanya dibawain di negara lain. Saya bilang ke diri saya sendiri, kalau mereka bawain A Violent Noise dan Brave For You, saya bakalan sedih sih karena cerita yang melatarbelakangi lagu itu. Sementara lagu Lips menurut saya seksi banget, jadi kalau liat versi live-nya saya ngeri terbawa suasana. EH GIMANA. Hahaha. Tapi ternyata sedikit kecewa juga karena tiga lagu itu nggak dibawain. Banyak maunya ya… :’) Mereka juga langsung hajar semua lagu yang ada di setlist. Sok-sokan ke backstage sebelum encore, tapi Jamie aja masih nggak beranjak dari tempatnya. Encore apaan... Hahaha. Nyanyi bareng lagu Angels sebagai penutupan dan udah deh, mereka dadah-dadah.

UntitledI Dare You (ballad version) Heart light for Jamie

Saya masih di area VIP dan habis ngambil foto wristband. Ada larangan dari promotor untuk nggak foto, apalagi bagian barcode-nya terus upload ke sosmed. Tapi berhubung konser udah selesai, yaudahlah ya… Baru selesai foto, saya dengar sesuatu terjatuh di dekat saya. Saya pikir, Wah, ada yang barangnya jatuh nih, sampai akhirnya mata saya terpaku ke sebuah benda hitam kecil yang nggak lain adalah sekeping pick gitar. Tanpa nunggu, langsung saya ambil. Dapet pick gitarnya Romy Madley Croft! Biasa aja sih, nggak ada simbol khusus The xx atau apa. But whaaaat… tetep seneng! Seorang mas bule yang tadi sepertinya melihat kejadian itu lantas mengacungi saya kedua jempolnya sambil bilang, “Good, good!” dan kelihatan ikutan seneng. Makasih loh, mas.

When you can afford VIP ticket... Got Romy's pick!

Sempet mau ketemu dengan Windy, tapi dia masih nunggu temannya yang lain. Berhubung perjalanan pulang saya jauh, akhirnya saya duluan. Dan kami lanjut ngobrol panjang di WhatsApp. Keesokan harinya juga masih lanjut ngomongin. Ternyata emang banyak yang memprotes antrian di loket penukaran e-voucher. Ada yang protes panjang lebar ke promotor karena begitu masuk, udah tiga lagu yang dimainkan. Saya ikutan kasihan dan kesel. Tambah kesel lagi karena lihat salah satu tanggapan curhatan itu. Seseorang dengan bangganya menanggapi kira-kira gini, “Jarang nonton konser sih. Gue aja beli tiket GA1 100 ribu doang, nggak pakai ngantri, langsung masuk.” Saya penasaran dia udah nonton seberapa banyak konser sih, kok songong banget. Terus hellawww beli di calo kok bangga?

But the crew said, "No, sorry." What's left of the crowd The setlist

Masih sempet nyatet setlist yang disingkat-singkat ini... :))
Di perjalanan pulang menenggak satu setengah botol air mineral dan dua bakpao cokelat saking lapernya. Yah walaupun masih berharap lebih, saya senang bisa lihat mereka live, nyanyi bareng, dan joget nggak-jelas-yang-penting-asoy. Mereka juga tampaknya lumayan impressed. Besoknya mereka update di Insta Stories, “Still thinking about last night. We love you, Jakarta.” Duh, kan… saya… jadi… tambah baper… Satu lagi, seneng karena nambah teman yang sepertinya kadar ngefans ke Oliver-nya sama. Kenapa semesta baru mempertemukan kita sekarang? Kenapaaaaaa? Lebay. Haha. Nggak kebayang ini kalau ketemu beneran. Apakah suatu saat saya dan Windy akan menghabiskan waktu hangout dengan stalking sang idola bersama? Semoga tidak. Hahaha.

Oke, tinggal Haim, Mumford & Sons, dan Lorde nih yang belum mau mampir ke sini. Selanjutnya, saya mau lihat Oliver lainnya di Call Me by Your Name. See you soon!

Read the Printed Word!